Hubungan Unik Antara Bima di Lombok dan Komodo di Labuan Bajo
Antara Lombok dan Taman Nasional Komodo sebenarnya berbeda daerah. Lombok merupakan daerah yang berada di Nusa Tenggara Barat sedangkan Taman Nasional Komodo berada di wilayah Nusa Tenggara Timur. Meskipun begitu, keduanya baik Lombok maupun Taman Nasional Komodo merupakan destinasi wisata yang mempesona di Indonesia dan sama-sama bertemakan wisata pulau.
Uniknya, jika ditelusuri sejarahnya di masa lampau, ternyata
Taman Nasional Komodo pernah memiliki hubungan dengan Bima yang berada di Nusa
Tenggara Barat dan dekat dengan Lombok. Hubungan ini juga terbilang unik untuk
dibahas. Seperti apa informasinya? Simak ulasan berikut ini.
Kesultanan Bima Penjaga Hewan Komodo yang Legendaris
![]() |
Dokumentasi Kesultanan Bima, sumber Peta Belitung |
Salah satu bukti Pulau Komodo dan Kesultanan Bima merupakan
satu bagian teritorial adalah dengan adanya pelestarian Komodo. Sejak dahulu
kegiatan ini dilakukan sebagaimana kearifan lokal tempo dulu, melalui surat dan
peraturan adat yang dibuat Sultan Ibrahim bersama Masyarakat di wilayah
Manggarai dan sekitarnya pada masa Pemerintahan 1881-1915 M.
Sejak ditemukannya komodo pada 1911 oleh JKH Van Steyn yang
tercantum didalam SK Menteri Kehutanan No. 306/Kpts-II/1995, komodo kemudian
diberi nama Varanus Komodoensis oleh PA. Owens pada 1912. Hingga tahun 1930-an
Pulau Komodo berada dibawah pemerintahan Kesultanan Bima, sehingga tanggal 30
April 1915. Sultan Bima pun mengeluarkan peraturan untuk melindungi binatang
komodo. Komodo bukanlah sekedar binatang yang dijaga dan dilindungi, tetapi
binatang
Raja Bima saat itu yang menguasai sebagian wilayah NTT
adalah Sultan Hamid Abdullah. Sultan Hamid Abdullah ekspansi wilayah hingga ke
bagian timur Nusa Tenggara Barat, salah satunya adalah Pulau Komodo yang
termasuk wilayah Manggarai Barat. Sebelah utara Desa komodo berbatasan dengan
Laut Flores, Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Sumba, Sebelah Timur
berbatasan dengan Pulau Papagarang dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Sape (Perangkat Desa Komodo, 2015).komodo adalah
sebagai identitas baru bagi orang-orang di Nusa Tenggara Timur.
Sultan Ibrahim menerbitkan UU perlindungan terhadap komodo,
yang terdiri dari 5 pasal yang saling berkaitan satu pasal dengan pasal lainya.
Tahun 1914 ayah sultan Muhammad Salahuddin itu mengeluarkan UU tersebut dengan
banyak kemungkinan asumsi, bisa saja dengan melihat perkembangan perdagangan
antar pulau yang semakin meningkat dan barang-barang dagangan yang semakin
tidak terhitung asalkan memiliki fungsi yang menarik. Dan tentu saja komodo
sebagai hewan yang erotis menjadi salah satu incaran karena kulitnya tentu saja
akan dibayar mahal.
Dalam naskah tersebut Sultan Ibrahim memerintahkan kepada
semua masyarakat yang berada sama dengan komunitas komodo membiarkan hewan
tersebut hidup secara bebas dan melarang memburu apalagi merusak sarang dan
semua tindakan yang akan mengancam kelangsungan habitat komodo. Seperti yang
tertulis dalam pasal 3 menyatakan:
“Menangkap atau
membunuh binatang tersebut dalam pasal 1″, yang berada di atas
atau di dalam rumah atau di atas pekarangan rumah yang bersangkutan maupun tempat-tempat
tertuntup, terhadap penghuni rumah dan pengguna tanah dan pihak ketiga dengan persetujuannya dibebaskan. Pengecualian yang sama berlaku untuk mengambil, merusak
atau mengganggu sarang-sarang binatang yang ada disana”
Mitos Tentang Komodo
![]() |
Komodo, sumber KimKim |
Hubungan antara Kesultanan Bima dan Komodo tidak lepas dari
budaya masyarakat setempat. Jika mereka menceritakan hubungan ini, mereka
mengacu kepada mitos yang turun temurun diceritakan dari orang tua mereka. Bagaimana
mitosnya?
Di Kampung Komodo terdapat suku-suku yang pertama tinggal di
Kampung Komodo, yaitu Suku Komodo adalah Mpu Najo, Suku Welak dari Manggarai
dan Suku Atalabo, Suku Sumba dan Suku Bima. Suku Welak merupakan suku yang
datang dari Manggarai dan kemudian salah seorang dari Suku Welak menikah dengan
Suku Komodo yaitu Mpu Najo. Namun, dari hasil pernikahan tersebut tidak dapat
menambah manusia, karena kebiasaan orang dahulu di Kampung Komodo ketika
melahirkan perut si perempuan yang sedang mengandung harus dibelah.
Datangnya Suku Labo yang berasal dari Sumba bermula ketika
istri dari Mpu Najo ini akan melahirkan, kemudian Mpu Najo tidak ingin
menyaksikan proses pembelahan perut istrinya dan ia pun pergi ke tepi pantai. Secara
tidak sengaja, Mpu Najo bertemu dengan orang Sumba yang hendak pergi ke
Sumbawa. Sebelum menggunakan mesin perahu, orang Sumba dahulu masih menggunakan
perahu layar, karena melawan arus laut, maka orang Sumba yang hendak ke Sumbawa
itu terbawa arus hingga ke Loh Wawu Pulau Komodo.
Akhirnya, Mpu Najo menceritakan apa yang menjadi
kegelisahannya kepada orang Sumba. Salah satu dari orang Sumba adalah seorang
dukun beranak, maka diajaklah Mpu Najo untuk menyelamatkan istrinya yang hendak
melahirkan. Setelah dibantu oleh dukun beranak dari Sumba, istri Mpu Najo ini
melahirkan dengan normal.
Keanehan yang terjadi setelah melahirkan adalah dua bayi
kembar, satu dalam wujud binatang komodo, satunya dalam wujud manusia.
Diberilah nama Sebae (bahasa komodo artinya sebelah) untuk Ora (komodo) ini,
sedangkan bayi manusia diberi nama Epa. Akhirnya begitu melahirkan Mpu Najo itu
merasa senang kepada orang Sumba itu, maka ia diberi imbalan diberi tanah dari
Loh Wawu sampai loh Wawu.
Karena saudara kembar manusia ini adalah seekor binatang
komodo, maka ia sama sekali tidak bisa makan nasi ataupun minum air susu
ibunya. Binatang komodo harus makan daging, dipeliharalah komodo ini. Kebiasaan
orang-orang di kampung komodo dahulu adalah berburu rusa, maka Sebae pun biasa
diberi makan bagian kepala, perut dan kulit rusa sebelum ia bisa mencari makan
sendiri. Sesekali ia turun ke perkamoungan dan mencuri ayam milik warga.
Ia pun ditegur oleh mamak nya supaya tidak mencuri ayam
warga lagi. Dan ia pun pergi ke hutan ketika berumur sekitar dua tahun untuk
mencari makan sendiri dan mulai bergabung dengan komodo hutan lainnya. Dari
penuturan H. Amin dan berdasarkan cerita turun-temurun, komodo yang memiliki
jari lima ia tidaklah ganas. Sebae pun sesekali pulang untuk menengok adik dan
ibunya.
Setelah itu, barulah manusia di kampung komodo dapat
berkembang. Suku-suku yang berada di Pulau Komodo terbagi dibeberapa wilayah.
Sebelum tinggal terpusat di satu wilayah kampung komodo, dahulu suku-suku
pendatang tinggal di beberapa wilayah di Pulau Komodo, seperti Suku Sumba
tinggal di wilayah Rebong, Suku Welak tinggal di Kampung Komodo yang sekarang,
Suku Atalabo tinggal di Gunung Ara, dan Suku Bima tinggal di Loh Sebita.
Itu dia informasi seputar hubungan Kesultanan Bima yang
dekat dengan Lombok dan Taman Nasional Komodo. Kunjungi terus blog paket wisata
Lombok untuk berbagai informasi menarik seputar lokasi wisata dan cerita lokal
di Lombok dan sekitarnya.
Posting Komentar untuk "Hubungan Unik Antara Bima di Lombok dan Komodo di Labuan Bajo"